Mendekati ahir perputaran MotoGP tahun 2020 ini, dunia dikejuti dengan dijatuhkannya hukuman ke semua tim Yamaha, baik sebagai Construktor atau sebagai Tim – Petronas Yamaha SRT (satelit) dan Monster Energy Yamaha (pabrikasi).

Pada salah satunya adegan awalnya balapan di Jerez, Lucy Wiryono (presenter MotoGP – terima kasih Trans7) dan Joni Lono Mulia memberitahukan jika Yamaha waktu itu diambang kritis permasalahan mesin.

Menurut ketentuan MotoGP, tiap peserta memiliki porsi 5 mesin untuk semua musim 2020. Waktu itu karena bermacam kejadian, porsi 5 mesin itu hampir habis walau sebenarnya musim balapan baru ada di awal mula.

Kenyataannya sesi-sesi balapan selanjutnya, issue itu raib menguap demikian saja. Bisa di mememahami jika Lucy Wiryono dan Joni Lono tidak mengulas permasalahan itu kembali, karena acara itu di sponsori oleh Yamaha. Bahkan juga motor purwarupa Yamaha selalu unggul dalam set qualifikasi pada hari sabtu, walau belum pasti cemerlang mencetak kemenangan di balapan hari minggu.

Beberapa pemirsa juga ada yang telah lupakan informasi itu. Walau di beberapa penonton masih tinggalkan sedikit ganjalan, atau sebersit pertanyaan.

Nah pertanyaan itu terjawab pada kamis tempo hari, saat keluar informasi sah jika Yamaha dijatuhkan hukuman. Bahasa yang dipakai ialah Yamaha tidak menghargai (disrespect) ketentuan yang sudah disetujui. Jadi di sini Yamaha dipandang tidak punyai kehormatan.

Yamaha secara sembunyi-sembunyi (tidak memberikan laporan) pengubahan mesin yang dilaksanakan dalam rencana mengatasi permasalahan tehnis yang ada.

Wujud hukumannya ialah pengurangan nilai yang lumayan besar. Yamaha sebagai Construktor dikurangi 50 point (membuatnya terlontar ke urutan ke-3 di bawah Suzuki dengan beda 5 point).

Sedang dalam rangking Tim, Petronas Yamaha SRT lengser ke status 2 di bawah Suzuki Ecstar dengan beda 44 point. Bahkan juga si pabrikasi, Monster Energy Yamaha terlontar sampai nyaris di status buncit (5 dari 6 tim). Dengan besarnya nilai hukuman karena itu dapat diambil kesimpulan ini ialah pelanggaran dengan kelompok berat.

Akan tetapi ada banyak suara yang memandang hukuman itu masih tidak cukup. Diantaranya ialah Marc Marquez. Ia mencuitkan secara sarkas, semestinya rider Yamaha dikenakan pengurangan nilai, karena mereka dapat raih point kemenangan berdasar tunggangan yang memiliki kandungan manipulasi.