Gelar dapat diperoleh, tidak masalah harga pemain dan pelatih yang tidak lumrah! Real Madrid, Man City, Pabrikasi Honda atau Yamaha, dan deretan yang lain yang ikut ikut-ikutan dan mendadak kaya tiba-tiba, berlomba-lomba membuat team dengan uang. Tetapi berapa saja jumlahnya gelar yang mereka raih, tidak cukup membuat saya berdecak.

Kesuksesan beberapa semenjana, yang dengan bekal sedikit dana dan beberapa ribu determinasi, jauh punyai narasi. Denmark (Eropa 1992), Blackburn Rovers (Premier League 1995), Kaiserlautarn (Bundesliga 1997), Yunani (Eropa 2004), FC Porto (Liga Champion 2003) sampai Persik Kediri (Liga Indonesia 2005), sedikit contoh yang dapat memberi kita pelajaran, jika besarnya nominal bukan agunan memegang gelar.

Tempo hari, satu kembali yang memberikan kita pelajaran sama. Lewat rider Joan Mir dan team mediokernya namanya Suzuki Ecstar. Mereka memperlihatkan jika kerja betul dan kreasi, dapat menajamkan anggaran yang pijakl. Awalnya, (2012-2014) Suzuki mangkir seri MotoGp karena masalah keuangan.

Saat come back juga sampai saat ini, manjadi pabrikasi dengan anggaran minim. Kesuksesannya ini hari, karena kekuatan mereka mengotimalisasi apa yang ada dengan konsentrasi.

Pertama, mengambil rookie yang murah dan meriah, Joan Mir hanya punyai 1 titel juara dunia, itu juga moto3 sekian tahun lalu, dan ini baru tahun ke-2 nya di kelas moto GP.

Ke-2 , tidak mempunyai team satelit, keuntungan ini membuat dana mereka tidak terdiri, dan malah fokus membuat satu produk dengan keseluruhan.

Ke-3 , membuat budaya kekerabatan semestinya Team Satelit, yang malah memungkinkannya mereka sama-sama share data, juga emosi.

Ke-4, sadar jika motor GSX-RR adopsi mesin inline 4 yang ketinggalan dari V4 punya Honda dan Ducati di trek lempeng. Steam Suzuki meningkatkan sasis dan swingarm yang pas dengan ban Michelin. Skonstan saat menikung dan membuat pembalapnya stabil raih point. Kalah di track lurus, tetapi cekatan di kelokan.

Filosofi ini sesuai apa yang dapat kita saksikan pada cerita Daud menantang Jalut (terkenal bernama Goliath). Bagaimana yang kecil, jumawa di depan yang besar. Pikirkan, Jalut yang berperawakan bak raksasa, berpakaian tembaga perang, membawa. Ssenjata mematikan, dan semenjak kecil telah dibesarkan sebagai seorang petarung, dan pada akhirnya jadi sisi dari pasukan militer.