Terpopuler & Terbesar di Indonesia

Category: Main (page 2 of 6)

Franco Morbidelli Rajai MotoGP 2020 Teruel

Duka cita menerpa sesudah Jorge Lorenzo memilih untuk pensiun pada seri terakhir di GP Valencia 2019 kemarin. Saya benar-benar susah meredam air mata karena Por Fuera adalah rider yang temani saat-saat cantik saat remaja.

Rossi, Lorenzo, Stoner, dan Pedrosa ialah 4 rider yang kurang lebih mengubah penglihatan saya akan balapan MotoGP. Yang semula sekedar hanya selingan pragmatis, jadi sebuah persaingan yang memikat untuk dikaji. Tetapi 2019, zaman itu perlahan-lahan menghilang dan cuman tersisa The Doctor di umur senjanya.

Balik ke topik, Lorenzo memilih untuk mengakhiri kariernya sesudah tidak sanggup untuk tampil seperti harapan bersama Honda. Ditambahkan luka punggung yang kronis harus dia penderitaan sesudah jatuh di Circuit Assen 2019 kemarin.

Walau sebenarnya khalayak menginginkan kompetisi di antara Lorenzo dan Marquez semakin lebih menghangat bersama Repsol Honda. Bahkan juga saya sempat pernah memikir akan terjadi Senna versus Prost dalam versus MotoGP. Kenyataannya harapan itu hanya angan semata dan si juara dunia 5 kali tidak ingin melanjutkan kesusahannya itu.

Sebentar sesudah Lorenzo memundurkan diri, bursa rider sempat pernah menghangat walaupun cuman sesaat. Cal Crutchlow dan Johann Zarco ialah 2 nama yang marak dihubungkan menjadi tandem Marc Marquez di Repsol Honda.

Tetapi saat itu juga surprise itu juga datang sesudah Honda memilih untuk mengambil Alex Marquez, adik dari Marc Marquez yang bisa menjadi suksesor Lorenzo di bangku ke-2 pabrikasi Honda dan temani si kakak. Keputusan itu membuat masalah dan anggapan banyak muncul seperti awan yang bersebaran di birunya langit.

Tidak sangsi, Alex Marquez menjadi bulan-bulanan anggapan yang mengarah menuju “menyepelekan”.

Di bawah bayangan si kakak

Alex barusan naik kelas ke MotoGP sesudah satu tahun awalnya sukses jadi juara dunia di kelas Moto2. Perjuangannya juga benar-benar tidak gampang. Minimal Alex memerlukan waktu sampai 5 musim (2015-2019) untuk dapat raih gelar itu. Sudah pasti khalayak akan memperbandingkan dengan perolehan si kakak.

Tahun 2010 Marc Marquez jadi juara dunia di kelas 125cc. The Baby Alien sanggup menjadi lagi juara dunia di kelas Moto2 pada tahun 2012. Selanjutnya dia langsung jadi juara dunia pada tahun pertama kalinya berkomptisi di MotoGP pada tahun 2013. Marc lagi menanamkan tongkat kemasyhurannya sampai tahun 2019 kemarin.

Rumor Marc Marquez Absen Sampai Akhir Musim dan Secuil Catatan Perburuan Juara MotoGP 2020

Takaaki Nakagami yang diunggulkan memenangkan MotoGP seri Teruel Spanyol ini hari harus akhiri balapan saat lap pertama belum usai.

Nakagami akhir pekan ini jadi perhatian karena raih pole position. Dia jadi pembalap Jepang pertama yang raih pole position sesudah 16 tahun. Sayang hasil race benar-benar anti klimaks. Nakagami jatuh di lap pertama dan out dari balapan.

Tidak cuma Nakagami yang sial. Alex Marquez tidak berhasil menulis hasil sebagus pekan kemarin. Alex Marquez kudu good bye sama #AlcanizGP sesudah jatuh saat balapan sisa 10 lap. Cukup mengesalkan karena Alex Marquez kembali on fire sekali.

Juara seri Teruel dicapai Franco Morbidelli yang tidak terjamah semenjak awalnya lap. Morbidelli menang gampang sekalian selamatkan muka Yamaha karena Vinales dan Quartararo tidak dapat banyak berbuat di Teruel. Vinales dan Quartararo cuman sanggup finish ke 7 dan 8 di seri ini.

dua pembalap Suzuki di tribune (dok.motogp.com) Hasil mempesona dicapai duet pembalap Suzuki, Alex Rins dan Joan Mir yang raih tribune dua dan tribune tiga. Joan Mir menurut saya patut jadi man of the race karena mengawali balapan dari status 12.

Tribunenya Mir membuat dianya semakin kukuhkan diri di status pimpinan klassemen sebentar. Dia tertaut 14 point dengan Quartararo yang berada di urutan ke-2.

Tidak cuma Nakagami yang gagak menuntaskan lap pertama MotoGP seri Teruel, tetapi ada Merek Binder dan Jack Miller. Miller tidak geram digeret Binder ke gravel, karena ucapnya Ducati sudah usai. Kecewanya Miller dapat dimaklumi. Semua pembalap Ducati harus masuk Q1 dan cuman Johann Zarco yang maju ke Q2.

Takaaki Nakagami sial (dok.motogp.com) Jalannya Balapan

Balapan berjalan 23 lap. Nakagami lakukan start prima dan ngacir di muka. Lumayan menjanjikan. Sayang ban belum panas membuat motor Taka sliding di kelokan 5. Taka nggelosor ke gravel dituruti tatapan mata pecinta balapan yang shock. Menunduk Taka membonceng motor Marshall dan kembali ke garasi. Dia masih menunduk saat di garasi. Tidak tega liatnya euy.

Apa yang Membuat Nakagami Terjatuh?

Alcaniz GP tersisa sebuah cerita yang terus akan dikenang pada musim 2020 ini. Morbidelli jadi juara dengan yang tidak biasa. Dibalik semua permasalahan yang dirasakan Yamaha di Aragon, secara perkasa dia sanggup meredam gempuran dari Rins yang tetap mengikutinya dari awalnya lomba. Kemenangan itu bawa si siswa The Doctor ini untuk menempati status 5 besar klassemen dan masih mempunyai peluang menjadi juara dunia…

Joan Mir, kembali menunjukkan fenomena stabilitas dalam dianya untuk meredam semua ego dan penekanan yang menimpa. Tidak ada yang dapat membendung psikis rider asal Spanyol ini untuk makin kukuhkan tempatnya sebagai puncak klassemen. Start dari status keduabelas, benar-benar bukan permasalahan untuk dianya untuk melalui 9 rider di depannya dan tempati tribune ke-3 .

Tetapi minggu yang anti-klimaks malah dirasakan oleh Honda. Ketika mereka sukses raih hasil positif di circuit yang serupa pekan kemarin, selanjutnya mereka ‘zonk’ di balapan kesempatan ini. Alex Marquez harus jatuh walau sebenarnya dia sudah ada di urutan ke-4 dan balapan tersisa 7-8 lap kembali. Hasil itu tidak berhasil lengkapi perolehan luar umumnya pada minggu kemarin yang sanggup finis di urutan ke-2. Dan yang tidak kalah tragisnya dirasakan Takaaki Nakagami.

Dia sukses membuat suatu fenomena sesudah sanggup raih pole position. Nakagami sukses jadi orang Jepang pertama yang sukses start paling depan sesudah 16 tahun lama waktunya. Benar-benar mengagumkan, dan performanya yang konstan sejauh musim 2020 ini telah cukup buat jadi landasan yang kuat untuk tempatkan dia sebagai calon juara dalam balapan.

Celaka, dia jatuh saat balapan baru saja berjalan 5 kelokan saja. Akhirnya, Taka tidak berhasil meneruskan balapan dan tersisa kekesalan yang cukup dalam. Apa yang sesungguhnya terjadi pada Nakagami, walau sebenarnya dia sudah memulai balapan dengan baik sekali di 4 kelokan awalnya???

Penekanan yang besar

Kita ketahui jika pada balapan ini Nakagami sukses raih pole position pertama kalinya semenjak dia kiprah di MotoGP di tahun 2018. Ditambahkan lagi perform motor yang sangat berteman dengan dianya jadikan ekspekstasi khalayak jadi semakin lebih tinggi. Pasti dibalik semua keuntungan karena itu bakal ada rugi yang menemani, dan itu dirasa sendiri oleh Nakagami.

Siapa Juara MotoGP 2020?

Ajang MotoGP 2020 sudah menuntaskan 11 seri, tinggal tersisa tiga seri balapan kembali yang akan berjalan bulan November kedepan. Dari status klassemen tidak ada pembalap yang dapat ditegaskan jadi juara dunia, Kompetisi masih ketat merebutkan 75 point optimal yang masih ada.

Dengan menyaksikan pada jalannya seri MotoGP 2020 yang sudah berjalan, kelihatannya akan susah ada pembalap yang sanggup hattrick merampas juara seri balapan.

Kesempatan merampas titel juara dunia MotoGP 2020 akan dipastikan oleh stabilitas beberapa pembalap, dan satu yang bisa menjadi aspek khusus dalam penetapan sukses merampas point yang masih ada ialah kepenguasaan pada circuit sebagai ajang balapan.

Seperti kita kenali, tiga seri sisa akan berjalan di Circuit Ricardo Tormo, Valencia, dengan gelar MotoGP Eropa dan MotoGP Valencia. Selanjutnya, serangkaian balapan MotoGP 2020 akan ditutup pada seri paling akhir MotoGP Portugal di Circuit Internasional Algarve, Portimao.

Saat sebelum membedah siapakah yang bisa menjadi jawara MotoGP 2020, seharusnya kita ulik sedikit siapakah yang akan berkilau di tiga seri sisa, seri ke 12 dan 13 yang akan berjalan di Circuit Ricardo Tormo, bila merujuk di hasil lomba musim kemarin. Fabio Quartararo kelihatannya akan kuasai balapan di Ricardo Tormo ini, musim kemarin Quartararo finis ke-2 ada di belakang. Marc Marquez yang musim kemarin menjalar, tetapi kemenangan Marquez atas. Fabio waktu itu didapat dengan kerja keras cuman beda 1.026 detik, diikuti oleh Miller yang. Sketinggalan 2.409 detik, Dovizioso finis ke-4, sementara. Joan Mir waktu itu sukses finish di status tujuh ketinggalan lebih 10 detik dari Marquez. Jika melihat dari data di atas Quartararo benar-benar diuntungkan oleh factor circuit.

Maverick Vinales terdaftar pernah. Sjadi jawara di circuit ini tetapi hasil itu ditorehkannya pada gelaran 125. CC di 2011 dan gelaran Moto3 di 2013, Rossi pernah menjadi raja pada tahun 2003 dan 2004.

Di MotoGP Valencia 2018 Davizioso yang keluar sebagai juara diikuti oleh Alex Rins di status Runner up. Seterusnya ada Johan Zarco dan Pol Espargaro pembalap yang pernah rasakan tribune di Circuit Ricardo Tormo.

MotoGP Hanyalah Pentas untuk Rider Italia dan Spanyol Saja

Dalam dua puluh tahun akhir, ringkas juara dunia MotoGP cuman dipunyai oleh beberapa rider dari 2 (dua) negara saja yakni dari Italia dan Spanyol.

Negara yang lain sempat pernah mengambil juara dunia tidak lebih dari 2 (dua) negara yakni Amerika Serikat (Kenny Robert Jr juara MotoGP tahun 2000 dan (alm) Nicky Hayden juara MotoGP tahun 2006) dan Australia (Casey Stoner juara MotoGP tahun 2007 dan tahun 2011).

Bahkan juga dalam 10 tahun akhir 9 juara dunia Moto GP salah satunya disikat oleh beberapa rider Spanyol. Bahkan juga di sejumlah tahun, Juara dan Runner Up terkuasai penuh oleh beberapa rider Spanyol

Tahun 2020 ini yang masih ada 3 seri balapan kembali, besar peluangnya juara dunia kembali dicapai oleh beberapa rider Spanyol. Seperti catatan paling akhir, puncak klassemen sementara ialah Joan Mir dari team Suzuki yang berkebangsaan Spanyol. Bagaimana dengan negara pesaing berat Spanyol?

Italia dalam tahun-tahun ini cuman sanggup tempatkan rider terbaik jadi Runner Up MotoGP seperti Valentino Rossi dan Andrea Dovizioso. Negara yang lain yang berperan serta dalam gelaran berprestise MotoGP ini sekedar hanya pendamping kompetisi di antara pembalap Spanyol dan Italia saja.

Kita kenali bersama, jika 9 dari 24 rider MotoGP yang sah tercatat dalam gelaran berprestise ini berawal dari Spanyol, dan 6 dari 24 rider MotoGP yang sah tercatat berawal dari Italia. Keseluruhan rider dari 2 negara ini telah capai 62,5% dari semua. Srider elits yang sah tercatat dalam gelaran balap berprestise MotoGP Tahun 2020.

Tidak salah bila kita mengatakan jika MotoGP pada sebuah dasawarsa paling akhir ini bukan laga. Sbalap motor dunia tetapi hanya laga balap motor antar 2 negara di Eropa. Dengan keadaan seperti ini dicemaskan makin lama akan menggerus. Sintensif apresiasi beberapa pemirsa setia Moto GP dunia dalam mengikut laga di tiap serinya.

Tahun 2020 ini sedikit berlainan, tetapi supremasi dua negara adidaya dalam MotoGP ini tetap kental berasa. Bermula dari wabah Covid-19 yang mengakibatkan beberapa seri kejuaran. MotoGP diurungkan realisasinya. Ssampai pada akhirnya. Sditetapkan cuman bakal ada 14 atau 15 seri MotoGP dan keseluruhnya dikerjakan di Benua Eropa.

Catatan dari MotoGP Teruel, Frankie Raih Gelar Kedua, Honda Hancur Lebur

Persyaratan menjadi juara balapan ialah dengan menaklukkan pembalap lain. Persyaratan menjadi juara dunia ialah dengan menaklukkan diri kita…” [/H2]

Tidak ada “juara 9/11” alias rider ke-9 sebagai juara di seri kesebelas MotoGP yang berjalan di circuit Aragon Ahad tempo hari. Franco “Frankie” Morbidelli, juara seri ke enam di San Marino, pada akhirnya berjaya kembali untuk merampas gelar ke-2 nya di GP Aragon jilid dua, yang sekarang namanya GP Teruel. Kemenangan ini sekalian jadi tribune ke-3 untuk Frankie sebelumnya setelah dia sukses merampas tribune dua di GP Brno, Republik Ceska. Kumpulkan 112 point, Frankie sekarang buka kesempatan dalam kompetisi untuk merampas gelar Juara Dunia MotoGP 2020.

Moto GP 2020 sekarang semakin hebat karena masih ada 75 point dari tersisa tiga seri yang akan ditandingkan. Dengan begitu, 14 pembalap bisa mimpi untuk raih titel juara dunia, tentu saja dengan peluang dari yang terbesar sampai hampir tidak mungkin. Kebalikannya 9 pembalap terhitung Marc Marquez dan Rossi, harus terpaksa lupakan mimpi jadi juara dunia 2020 karena point yang mereka mengumpulkan tidak mungkin kembali untuk memburu title juara dunia 2020.

Penulis semula telah membuat catatan siapa calon rider ke-9 sebagai juara di GP Aragon jilid ke-2 . Mereka itu ialah pembalap Honda, Takaaki Nakagami (pemegang pole) dan Alex Marquez (back to back tribune dua)

Nama Joan Mir (tribune tiga GP Aragon jilid I) tidak masuk karena status start yang begitu jauh (status 12) dan dapat ditegaskan jika dia akan bermain aman saja di GP Teruel ini.

Sementara untuk calon yang lain, penulis masukkan nama Alex Rins sebagai calon pertama, lalu nama Maverick Vinales dan Frankie Morbidelli. Kebenaran mereka ini pernah raih titel juara seri. Sekalinya pantas difavoritkan, tetapi nama Fabio Quartararo tidak ditempatkan karena permasalahan psikis. GP Teruel belum diawali, tetapi pemikiran. Quartararo telah ke arah GP Valencia. Skarena dia yakin jika dia tidak sukses di GP Teruel. Quartararo bahkan mengharap supaya Takaaki saja yang memenangi balapan ini, janganlah sampai Rins apa lagi Mir. Alamak! lebay…

Franco Morbidelli Akan Berjuang Maksimal untuk MotoGP Valencia 2020

Dengan bertokolnya Joan Mir di pucuk klassemen Motogp setelah ajang GP Teruel yang berjalan di circuit Motorland Aragon 25 Oktober tempo hari, mengisyaratkan untuk pertamanya kali rider Suzuki tempati pucuk klassemen semenjak Kenny Roberts jr 20 tahun lalu.

Perolehan ini benar-benar mengagumkan terlebih jika ingat begitu kesusahannya Suzuki untuk bersaing di zaman Motogp 4 tidak yang telah berjalan semenjak musim 2002 ini. Karena hal tersebut pasti tidak ada kelirunya jika kita menyaksikan apa yang terjadi 20 tahun lalu saat akhir kali rider Suzuki jadi juara dunia.

Janji Kenny Roberts

Saat itu kelas Motogp masih dikenali dengan panggilan GP500 dan masih memakai tipe mesin 2 tidak dengan kubikasi 500cc. Motor GP500 dikenali dengan panggilan motor setan karena torsinya yang paling garang, torsi garang ini jadi tidak terprediksi dan tidak teratasi karena karakter mesin 2 tidak yang tidak linear hingga beberapa pembalap pada waktu itu benar-benar susah untuk rasakan peralihan tenaga mesin ke roda belakang, ditambah dengan teknolgi ban dan rem yang masih belum sebaik saat ini pada saat itu membuat beberapa rider berguguran satu-satu saat coba menaklukan motor setan GP500 ini.

Pada periode GP500 2 tidak ini rider Amerika bisa dengan gampang memimpin jalannya persaingan. Skarena sistem latihan dirt trek mereka yang secara efisien latih beberapa. Spembalap agar bisa mengatur torsi motor setan mereka itu secara baik.

Tetapi sejak kemenangan Kevin Schwantz di tahun 1993 tidak ada rider Amerika yang lain menjadi juara di GP500. Pada masa 1994-1998 ajang GP500 demikian dikuasai oleh rider Australia Mick Doohan di atas Honda NSR500 kepunyaannya.

Kevin Schwantz, rider Amerika paling akhir yang sanggup jadi juara dunia saat sebelum Roberts. Sumber Gambar: Wikipedia.org

Karena itu kejuaran dunia masuk di musim 1999, Mick Doohan diminta untuk pensiun oleh kecelakaan. Sluar biasanya pada seri Spanyol di circuit Jerez. Persaingan perebutan juara dunia juga jadi bagus sekali karena si juara bertahan tidak menjaga titelnya. Sbeberapa rider yang lain sejauh ini ter-overshadow oleh supremasi Doohan juga tampil dan berkilau merebutkan gelar pada musim 1999 ini.

Menerka Siapa yang Menyandang “Rookie of The Year” MotoGP 2020

Musim balap MotoGP 2020 akan selekasnya usai. Sisa 3 seri kembali yang perlu dijalani beberapa rider untuk kukuhkan diri sebagai juara dunia atau gelar yang lain yang berada di negara asia.

Salah satunya gelar yang pantas ditunggukan di gelaran ini ialah ‘rookie of the year’. Pada tiga musim paling akhir (2017-2019), gelar rider kiprahan terbaik disikat oleh tiga rider dari team satelit Yamaha (2) dan Honda (1).

Rider kiprahan terbaik pada 2017 ialah Johann Zarco. Ia mentas dari Moto2 sebagai juara dunia 2x berturut-turut. Perolehan pada musim pertamanya di MotoGP, membuat jadi rider berprospek periode panjang untuk Yamaha.

Tetapi, saat team Tech3 pisah dengan Yamaha, Zarco harus juga pisah dengan motor YZR-M1. Rider asal Prancis itu pilih bela KTM Faktory pada 2019.

Sesudah Zarco, ada rider MarcVDS Honda yang menyikat gelar rider kiprahan terbaik, yakni Franco Morbidelli. Rider Italia itu sukses menaklukkan beberapa pesaing sama-sama kiprahan, walau dengan kerja keras.

Sedang pada zaman baru Yamaha bersama Petronas SRT, gelar rider kiprahan terbaik direngkuh oleh Fabio Quartararo. Gelar ini menjadi cindera mata untuk Yamaha.

Karena, dengan kesuksesan itu, Yamaha bisa membesarkan hati motornya sebagai motor yang paling ramah dengan rider kiprahan. Disamping itu, mereka mempunyai kesempatan untuk melakukan investasi dengan rider kiprahan.

Dua hal tersebut cukup susah dilaksanakan oleh pesaing intinya, Honda dan Ducati. Honda condong main aman dalam menggandeng rider.

Mereka sama ambil rider yang telah eksper di MotoGP. Ini makin kuat saat kerja sama di antara Honda dengan MarcVDS usai, hingga cuman tersisa dua team pemakai motor RC213V.

Sedikit berlainan pada Ducati yang awalannya kuasai banyak slot team balap di MotoGP. Itu membuat mereka bisa menggandeng rider kiprahan.

Cuman, motor mereka masih susah untuk dikalahkan. Bahkan juga, ada satu peristiwa di mana dua rider di team satelit Ducati berkompetisi seru untuk merebutkan porsi motor detail pabrikasi. Maknanya, kompetisi yang dibuat Ducati terutamanya untuk rider kiprahan termasuk cakupan intern dibanding external.

Joan Mir Mayrata Juara MotoGP 2020?

MotoGP 2020 tinggal tersisa tiga race kembali, umumnya di beberapa akhir musim semacam ini calon juara dunia telah meruncing pada satu atau dua nama saja yang berkompetisi merampas titel juara dunia.

Musim 2020 ini jadi berlainan, sudah pasti tidak dapat kita sangkal ini ialah akibatnya karena mangkir panjangnya Marc Marquez yang luka. Beberapa nama seperti Valentino Rossi, Dovizioso, Maverick Vinales diprediksikan akan berkompetisi ketat untuk tampil jadi jawara MotoGP 2020, tetapi siapa kira satu nama yang berbau kencur, mendadak menyodok antara supremasi pembalap-pebalap senior, Joan Mir secara perlahan-lahan mulai menyikat di depan dan sekarang disebut. Ssebagai salah satunya calon kuat juara MotoGP 2020 melalui performa apiknya dalam beberapa seri terakhir.

Bila dibanding dengan salah. SAsatunya calon lain peraup titel juara dunia, Fabio Quartararo yang memperlihatkan performa bagus dan stabil dengan merampas dua race awalnya. Sdan sampai musim ini tinggal tiga race Quartararo sudah 3x menempati posisi teratas tribune, Joan Mir benar-benar tidak masuk di dalam. WSperhitungan kompetitor serius persaingan perebutan titel juara dunia musim 2020 ini.

Quartararo bersama pembalap-pebalap Yamaha yang lain nyaris selalu merampas pole position tiap race. Sdan nama Joan Mir dan rekanan sama-sama Suzuki Alex Rins selalu. Sterlontar dari barisan depan starting grid, tetapi disini ternyata kualitas. Joan Mir jadi diakui, tidak cuma karena stabilitasnya dalam merampas point. Sdi tiap race, tetapi karena kekuatannya menyikat di depan dari status start di baris tengah sampai sanggup mengasapi delapan sampai. Ssembilan pembalap di depannya dan menyerobot sampai dapat naik tribune, pasti ini jadi suatu hal yang bisa dikata mengagumkan. Slangkah Mir melalui pembalap di depannya benar-benar mempesona. Sseperti pergerakan tanpa bayang-bayang tanding dua pembalap di depannya mendadak. Mir tampil manfaatkan sela sempit sepersekian detik dan lalu mengasapi mereka dengan fantastis, walau tanpa tribune satu perform. Syang diperlihatkan oleh Mir membuat patut untuk merampas titel juara dunia musim ini.

Siapa sich Joan Mir?, Pembalap berkebangsaan Spanyol kelahiran 1 September 1997 ini namanya. Skomplet Joan Mir Mayrata, perjalanan Mir di ajang balap dengan diawali berperan serta di Red Bull MotoGP Rookies Cup pada 2013 dan 2014.

Valentino Rossi Sudah Habis, Saatnya Joan Mir Meraih Gelar Juara Dunia

Mendekati ahir perputaran MotoGP tahun 2020 ini, dunia dikejuti dengan dijatuhkannya hukuman ke semua tim Yamaha, baik sebagai Construktor atau sebagai Tim – Petronas Yamaha SRT (satelit) dan Monster Energy Yamaha (pabrikasi).

Pada salah satunya adegan awalnya balapan di Jerez, Lucy Wiryono (presenter MotoGP – terima kasih Trans7) dan Joni Lono Mulia memberitahukan jika Yamaha waktu itu diambang kritis permasalahan mesin.

Menurut ketentuan MotoGP, tiap peserta memiliki porsi 5 mesin untuk semua musim 2020. Waktu itu karena bermacam kejadian, porsi 5 mesin itu hampir habis walau sebenarnya musim balapan baru ada di awal mula.

Kenyataannya sesi-sesi balapan selanjutnya, issue itu raib menguap demikian saja. Bisa di mememahami jika Lucy Wiryono dan Joni Lono tidak mengulas permasalahan itu kembali, karena acara itu di sponsori oleh Yamaha. Bahkan juga motor purwarupa Yamaha selalu unggul dalam set qualifikasi pada hari sabtu, walau belum pasti cemerlang mencetak kemenangan di balapan hari minggu.

Beberapa pemirsa juga ada yang telah lupakan informasi itu. Walau di beberapa penonton masih tinggalkan sedikit ganjalan, atau sebersit pertanyaan.

Nah pertanyaan itu terjawab pada kamis tempo hari, saat keluar informasi sah jika Yamaha dijatuhkan hukuman. Bahasa yang dipakai ialah Yamaha tidak menghargai (disrespect) ketentuan yang sudah disetujui. Jadi di sini Yamaha dipandang tidak punyai kehormatan.

Yamaha secara sembunyi-sembunyi (tidak memberikan laporan) pengubahan mesin yang dilaksanakan dalam rencana mengatasi permasalahan tehnis yang ada.

Wujud hukumannya ialah pengurangan nilai yang lumayan besar. Yamaha sebagai Construktor dikurangi 50 point (membuatnya terlontar ke urutan ke-3 di bawah Suzuki dengan beda 5 point).

Sedang dalam rangking Tim, Petronas Yamaha SRT lengser ke status 2 di bawah Suzuki Ecstar dengan beda 44 point. Bahkan juga si pabrikasi, Monster Energy Yamaha terlontar sampai nyaris di status buncit (5 dari 6 tim). Dengan besarnya nilai hukuman karena itu dapat diambil kesimpulan ini ialah pelanggaran dengan kelompok berat.

Akan tetapi ada banyak suara yang memandang hukuman itu masih tidak cukup. Diantaranya ialah Marc Marquez. Ia mencuitkan secara sarkas, semestinya rider Yamaha dikenakan pengurangan nilai, karena mereka dapat raih point kemenangan berdasar tunggangan yang memiliki kandungan manipulasi.

error: Content is protected !!